Kamis, 07 November 2019

On the road to Jakarta

Canda tawa didalam mobil terdengar sangat jelas. Setiap orang melemparkan jokes nya. Tampak semua sangat aktif, sibuk dalam candaan, dan terlarut dalam hangatnya suasana.

Namun dikursi paling belakang, terduduk kita berdua tak berkata. Jangankan suara untuk menegur, lirikan saja mungkin enggan.

Terkadang ku yang menoleh kearahmu, melihat kau memeluk boneka babi pink. Kaku sekali dengan tatapan nampak kosong kearah kaca mobil.

Inginku membuka obrolan, namun takut ada tolakan lagi. Cukup yang kemarin saja, tidak untuk hari ini.

Kini kau tampak bosan, entah apa yang ada dalam fikiranmu. Akankah kau berani tegur diriku, untuk memulai obrolan baru.

Kau terduduk memojok, dengan raut wajah yang mencolok. Tak berani ku tengok, karena takut kena tonjok. Haha, gamungkin sih kena tonjok, cuma biar pas aja belakang kata nya ok semua.

•••

Disini terasa sepi, hampa tanpa kata. Lewati detik tak bermakna. Aku rindu obrolan kita. Ya, apapun itu yang jelas aku rindu.

Kini rasa egoku menjulang tinggi, mungkin sudah siap untuk bergerak menjauh, atau hanya berpura agar tak terlihat lemah.

Sudahlah, memang harus tersedia tipe-x, agar cepat terhapus walau tetap berbekas. Namun akan tetap kucari tinta yang baru, untuk mengisi kekosongan yang masih membekas. Membekas namun tak terbaca lagi, karena tipe-x sudah menutupi.

Rasa sayangku kini berdetak pelan, semakin pelan semakin redup. Sama halnya dengan detik mundur seratus menuju satu, dan setiap detiknya rasa sayang itu menghilang.

Pecah seperti partikel kecil, bagai butiran debu. Tak terlihat , namun tetap ada. Akan tetapi akan sirna tertiup terbawa angin, terberai dan memisah dalam hitungan detik.

Kini ada satu hal yang kuharap dalam hati, "semoga rasa ingin mundur ku, hanyalah rasa yang tidak benar-benar inginku lakukan". Karena aku tak ingin jadi pendusta, sudah cukup dusta ku berpura tak cemburu, jangan sampai berdusta untuk berpura sanggup lupakanmu.

Tidak ada komentar: