Rasa hati kini membingungkan, rindu tapi ragu dan ingin menyapa tapi seperti tak bisa.
Rahasia bukan lagi rahasia bahwa sejujurnya ku masih belum bisa lupa. Seperti katanya, "kamu itu belum bisa ikhlas!". Iya, benar katamu, bukan hanya tak bisa, dan bahkan lebih dari itu.
Jikalau diperbolehkan bukan hanya tak bisa ikhlas, justru aku tak ingin ikhlas. Seperti terjebak dalam lubang hitam tak bertepi, dapat dilewati namun kutak ingin berdiri. Terduduk nyaman menikmati dimensi.
Jelasnya aku dapat keluar dan lupa dengan kegelapan itu, namun entah kenapa yakinku kan datang cahaya nantinya.
Hati semakin terbiasa, hingga tak ada cinta yang dapat masuk lagi. Seperti hanya satu pintu yang tersisa dan kuncinya hanya kamu yang punya.
Aku merasa terjebak, namun nyamanku di jebakan ini. Sampai aku teringat pada satu puisi yang pernah kubaca,
Bagaimana
Bagaimana caranya menolong hatiku
Kembali seperti sebelum kau titip kata-kata disana?
Barangkali aku yang salah,
Menyelipkan wajahmu untuk bertahta disitu
Sementara perlahan-lahan dunia membuat kita buta
Dan tak lagi punya rasa malu,
Juga keinginan saling menyakiti
Yang bertubi-tubi mengisi jam-jam kehidupan disini.
By: Nona Muchtar
Januari, 2010
Puisi itu seperti mengena saat kubaca, aku tertarik dengan kalimat nya. Rasanya seperti sedang kurasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar