Minggu, 20 Oktober 2019

KETIKA TIDURMU DIPELUKU

Malam terbangun terdiam duduk sendiri. Menengok sebelah terlihat bayangmu. Masih teringat jelas saat kau disisiku. Tertidur lelap dipelukanmu. Nada kenangan terus terngiang, bagaikan lagu yang menjadiharapanku

Tapi kusadar, kini yang kupeluk hanyalah harap, dan apa yang kuharap tak lagi berharap.

Mungkin ia sudah lupa, atau hanya berpura amnesia. Kenangan itu ibarat bayangan, diam tapi selalu mengikuti. Jadi wajar jika aku selalu teringat, karena denganmu kenangan indah terbentuk. Terukir jelas hingga ke hati, seperti mimpi didalam mimpi.

 Terduduk aku sadar, mimpiku terbangun dari mimpinya. Hanya bisa ingat setiap detik kejadian, disaat kau disisi dengan penuh ambisi. Ambisi untuk membangun kerajaan, kerajaan berdua dengan ikatan yang sah.

Walau saat itu hanya sebatas nikah sirih, tapi percayalah itu keseriusan dari dalam hati. Teringat pula saat berdua kita disidang sang ibu. Menanyakan keseriusan dan menegur agar terbatas. Disaat itu aku yakin akan dirimu, tak pernah terduga kini kita jauh.

Padahal aku yakin, akulah orang yang mampu menjagamu. Menjaga disaat kau terancam, melindungi saat kau dalam bahaya, menemani melewati gelap, meneduhkan dibawah terang. Namun tersadar aku detik ini. Detik dimana kejelasan tiba. Yang kuharapkan tak sesuai realita. Kau dengan dirinya, dengan keseriusan mu. Dan aku sendiri, dengan harapanku.

Tidak ada komentar: