Selasa, 25 Februari 2020

PEMBELAJARAN DALAM PERJALANAN

Bersamamu aku belajar banyak hal.
Dari bertahan akan rasa sakit dan menerima pahitnya kenyataan.

Aku bersarang akan harapku.
Namun kau bersarung dengan egomu.
Aku berjuang yakinkan kamu.
Namun kau berulang acuhkan aku.

Kini pena hidup telah berubah.
Sini terhirup harap telah berbuah.
Cinta yang dicita telah memulai cerita.
Kasih dan sayang tak lagi bayang.

Dulu, kuberi rasa sakit sebagai pengalaman.
Kemarin, ku yakinkanmu kembali sebagai perjuangan.
Kini, kembali kasih tertanam sebagai pembuktian.
Esok, cerita baru kan terangkum sebagai perjalanan.
Nanti, kulamar kau menjadi kekasih resmi sebagai pengabdian.
Dan Selamanya, ku dekap kau dalam suka duka sebagai pengabadian.
Maka dari itu, kita tau bahwasanya cinta adalah pelajaran.


Mencintaimu mengingatkanku pada salah satu sajak. Yang sama denganmu, yang mampu ajarkan ku ilmu pengetahuan baru.

Sehingga aku tahu, bahwa sumber segala kisah adalah kasih.
Bahwa ingin berawal dari angan.
Bahwa segala yang baik akan berbiak.
Bahwa orang ramah tidak mudah marah.
Bahwa untuk menjadi gagah, aku harus menjadi gigih.

Bahwa seorang bintang harus tahan banting.
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan.
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira.
Sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila.

Bahwa orang putus asa suka memanggil asu.
Bahwa lidah memang pandai berdalih.
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa.
Bahwa amin yang terbuat dari iman membuat kau merasa aman.


Mungkin kau berpikir ada beberapa kosa kata yang kurang tepat diatas, namun begitulah cinta. Terkadang tak tepat namun tetap saja digunakan, dan yakinlah itu semua pasti selalu dengan alasan.

Aku sadar bahasa indonesiaku belum sempurna, sesempurna pujangga yang pandai merangkai kata.

Namun, bahasa indonesiaku yang  membawaku kesebuah  kalimat yang merindukan bau tubuhmu.
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat.
Dimana kau induk kalimat, dan aku anak kalimat.

Ketika induk kalimat bilang pulang.
Anak kalimat paham, bahwa pulang adalah masuk kedalam palung.
Ruang penuh raung,  segala kenang tertidur didalam kening.

Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.


***
Kukombinasikan dengan karya milikku dengan seorang Penyair bernama Joko Pinurbo.

Tidak ada komentar: