Tim mulai menghubungi, memberitahukan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai. "Kami sudah di depan lanal nih", kata salah satu dari mereka. Spontan aku menjawab " Wah, kejauhan itu. Jemput tempat nganter aku waktu itu aja". Akhirnya mereka menghampiri untuk menjemput kami.
Sesampai mereka ditempat penjemputan, aku dan kamu bergegas menghampiri. Dengan tubuh yang diselimuti banyaknya barang bawaan kita tetap melanjutkan langkah. Tim membantu memasukan barang bawaan kita ke bagasi mobil, lalu kita masuk kedalam mobil pula.
Tempat terbaik untuk kita saat ini. Duduk berdua dengan mu di kursi terbelakang tanpa ada gangguan dari yang lain. Namun, kita hanya saling diam tanpa sapaan. Rasanya jauh berbeda dari saat kita dirumahku tadi.
Tadi kita begitu dekat, namun kini terdiam tanpa sepatah katapun. Sedikit ku lirikan mata ke HP mu, namun ku tau sakit yang akan kurasa. Wajar sakit karena sudah pasti kau akan asik chatingan dengan dia.
Lagi - lagi terbesit dalam fikiranku, "ragamu disini bersamaku namun hatimu jauh bersamanya disana", itu yang selalu masuk dalam fikiranku kini.
Entah, dengan cara apa aku membohongi diriku lagi. Dengan cara apa aku berpura untuk terbiasa dan seolah tak ada apa-apa. Maaf, aku memang egois. Berharap yang tak lagi mengharap, meminta yang tak lagi ingin dipinta, serta memperjuangkan yang tak lagi akan mengharapkan perjuanganku.
Seandainya saja aku mampu katakan, ingin sekali ku ucapkan " Aku sayang kamu, berapa banyak dan seberapa besar lagi rasa sakit yang harus aku Terima hanya demi untuk memilikimu lagi? ".
•••
Disisi lain, aku senang sekali kau peluk boneka babi pink yang kuberikan tadi. Boneka yang harusnya kau Terima tiga bulan lalu, baru kini kau pegang ditanganmu. Bukan karena kau tak mau Terima, tapi karena memang baru kini aku berikan.
Terimakasih telah menghargai pemberian ku, Terima kasih telah memeluk pemberian ku. Semoga itu bisa menjadi temanmu selama dalam perjalanan kita beberapa hari kedepan, dan jadi temanmu pula ketika kau mampu sampai dirumahmu lagi.
•••
Ketika ku tengok kearahmu, kulihat kamu tertidur dengan posisi tak beraturan. Hingga ku tarik dan ku arahkan kepalamu untuk bersandar di bahuku.
Beberapa saat kemudian kau seperti terbangun, karena kulihat kantuk mu, aku bergeser dan membiarkan padaku menjadi tempat kau meletakkan kepala mu demi mendapatkan posisi ternyaman untuk beristirahat.
Kini kau nyenyak di pangkuanku. Sesekali ku belai lembut kepala dan tanganmu. " Aku sayang kamu, selamanya akan tetap begitu" Berulang-ulang kuucapkan dalam hati.
Kamu, iya kamu. Kamu berhasil membuatku sungguh-sungguh mencinta. Membuatku jatuh dalam lubang harapan, yang tak inginku menyerah dan meninggalkan. Walau ku tahu hatimu bukan lagi untukku.
Namun, aku yakin akan satu hal. Hanya orang yang mampu berjuang dalam keadaan dan kesulitan apapun yang akan memenangmannya. Walau kalah atau menang bukan lah target kumpulkan, tetapi membahagiakan mu lah tujuan utamaku.
•••
Mungkin pula kini kau rasa cinta nya lah yang besar untukmu, namun percayalah cintaku lebih dari yang kau bayangkan aslinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar