Sabtu, 09 November 2019

Come Back To Bandar Lampung

Bangun pagi dan bergegas menuju ke kamarmu. Karena tidak ada akses ke lantai 12 dimana kamarmu berada, aku bolak-balik lift menunggu pintu terbuka di lantai 12.

Sesampainya diatas, aku mengetuk dan kau membukakan pintu. Kau berdua dengan temanmu, lalu kita menuju lobby dan mengantar temanmu keluar. Sesudah itu kita bergegas ke lantai 1 untuk sarapan.

Setelah sarapan kita kembali ke kamarmu dan bersiap untuk pulang ke lampung.

Story start. (10:12)
Nampaknya aku mulai terbiasa tanpa obrolan kecil denganmu. Aku tak merasa resah tanpa teguran atau apapun itu.

Dari sisi kirimu aku hanya sesekali melirik kearahmu, dan terdengar suara "kriuk, kriuk" Renyah suara kau mengunyah chiki.

Hanya saja kini terbesit tanya didalam hati "akan kah seterusnya kita akan seperti ini? ", " Atau hanya canggung kala ini saja? ". Aslinya hatiku kini hanya sedikit berharap, harapan yang kemarin benar-benar mulai meredup.

Tetapi tunggu dulu. Aku teringat kemarin saat kita ngopi di 'Fore', tim berkata bahwa minggu depan kita take video berdua lagi, dan akhir bulan kita akan berangkat ke jogjakarta juga.

Aku rasa ini bukanlah akhir, justru ini adalah titik mulai. Akan ada banyak kedekatan lagi yang menunggu didepan sana. Aku jadi ragu soal usahaku menjauh, namun biarkan ku berjuang dan bergerak kearah yang berlawanan dari yang lalu.

Mungkin kemarin aku berusaha merebut hatimu lagi, namun kini kubiarkan hati itu pergi menuju hati yang memang hatimu tuju. Kalau kau serius dengan dia, sehebat apapun aku kau akan tetap pergi menjauh. Akan tetapi jika kau memang masih simpan cintamu untukku, sekeras apapun aku menjauh, maka kita akan tetap melekat seperti magnet yang saling mengikat.

•••

(11:47)
Sampai kita di Pom Bensin, karena ku kebelet buang air kecil aku pun bergegas menuju wc, karena gak megang uang kecil akhirnya gak bayar juga deh.

Ketika kembali ke mobil, dengan enaknya kau tiduran dibelakang dan membuatku tak bisa masuk. Yasudah kubiarkan kau tiduran saja, akupun duduk ditengah.

Saat mobil berbelok secara cepat, tampak kau jatuh kebawah. Nyungsep di lantai mobil. Aku berpura tak melihat, kau berteriak " Aduuhh"  , lucu sebenarnya saat ini.

Kini kau terduduk diam dibelakang, duduk sendiri tak berucap. Lamunanmu lucu sekali.

Namun, saat ini kita menepi di gerbang merak (eksekutif). Kau kembali dalam posisi rebahan. Semoga tak terjatuh lagi ya.

•••

(12:00)
Hatiku tiba-tiba labil nih, rasanya aku khawatir badanmu sakit setelah kau jatuh tadi. Saat kau terbangun kau berkata kepadaku "ini apaan sih? Aku tadi jatoh terus nimpah ini", sambil kau tunjuk plastik berisi makanan yang kutaruh dibawah. " Aku juga tau kali kalau kamu barusan jatuh, orang mau ketawa tapi ditahan kok", kataku dalam hati. " Kameranya juga ketimpa badan aku", katamu melanjutkan.

"Tapi badan kamu gak sakit kan? ", ku bertanya balik padamu. Dengan santai kau jawab "Engga kok, malah empuk". "Yasudah alhamdulillah kalo gitu, kamera mah paling rusak bisa beli lagi. Yang penting kamu gak kenapa-kenapa", Timpaku.

Tak sengaja kau angkat tas laptop dan terkena kepalaku, "duh" Spontan keluar dari mulutku. Spontan pula kau mengelus bagian kepalaku yang terkena, rasanya seperti masih ada keperdulian pula kala ini.

Hal kecil sih memang, tapi sungguh seperti bukan hal biasa rasanya.

Sungguh tak bisa ku berdusta, nyatanya ku masih cinta. Takutku kau merasa sakit, adalah tanda kecil ku masih perduli padamu. Usaha ku menjauh nampak sia-sia, namun harus ku lanjutkan karena ku tahu hatimu bukan untukku lagi.

•••

(12:52)
Kita berkumpul diruangan ekspress, terduduk dan makan bersama, suara jangkar terdengar menandakan sedang diangkat. Kapalpun mulai berjalan pelan.

Saat makan sesekali ku melirik kearahmu, terkadang tertangkap mata kaupun melirik kearahku. Hanya lirikan tanpa sepatah kata. Mata seakan berbicara, namun mulut terdiam menatap.

"Ajak keliling-keliling kapal ah", niatku dalam hati. Namun masih enggan mulut berkata, takut tolakan kesekian kali.

Tiba-tiba kau mendekat lalu berkata, "mau keliling ah". "Hati-hati", jawabku. Kau melirik dan berkata lagi, "gak mau ikut?", aku hanya menatap dan kau bergerak menjauh. Mamun sedikit lucu kau hampir terselandung kursi yang ada diseberang ku.

Tatapan mu tadi seperti sebuah ajakan, tapi kau hanya melontarkan pertanyaan. Yasudah, semoga kau tetap menikmati tanpa hadirku disampingmu.

•••

(13:02)
Prediksiku dalam hati, "Ah, paling sebentar lagi dia kesini dan mengajakku berkeliling. Mungkin dengan alasan menunjukkan sesuatu, atau hanya ajakan saja". Jadi ceritanya aku lagi sok tau bercampur kepedean nih. Oke, kita tunggu saja beberapa saat lagi.

•••

(13:07)
Tiba-tiba kau datang masuk keruangan ini lagi. "Aha", kataku dalam hati. Kau tampak senyum-senyum sendiri. Lalu kau bilang bahwa kau habis dari bioskop dibawah. " Si kampret ini gak ngajakin keliling, kan gua jadi salah prediksinya", lanjut ku dalam hati.

Kini kau malah duduk disebelahku, namun asik dengan gadgetmu sendiri. Sesekali terdengar suara, yang menunjukkan bahwa kau sedang melihat status di whatsapp.

Kini ku tengok ke kanan tempat ku duduk, ada tulisan didalam ukiran kayu "Bertumbuh dan menua bersama". Dalam sekali kata-kata nya.

Sengaja ku bacakan agar kau melirik kearah itu juga. Dan ternyata benar, kaupun melirik kearah sana. Secara psikologis itu akan menjadi seperti tembakan kalimat dariku untukmu. Sadar atau tidak kalimat tersebut tertanam dialam bawah sadar mu.

•••

(13:37)
Kini aku berdiri diatas kapal, dilantai paling atas. Disini dingin sekali, anginnya begitu besar. Seandainya kamu disini disampingku, ingin kupeluk erat kau disini, walau didepan banyak orang.

Angin begitu besar, hingga saat aku menulis blog inipun hp ku seperti ingin terbang. Aku memegang erat hp ini, karena kini seperti ku sedang rebutan dengan angin.

Seandainya kau benar disini, begitu nikmatnya kita bisa berdua disini. Tak anggap orang lain yang ada, pokoknya hanya berdua. Namun nyatanya, aku hanyalah sendiri disini.

•••

(13:47)
Kulihat dari kejauhan, tampak menara Siger dari sini. Tanda bahwa sebentar lagi sampai ku di pulau Sumatera tercinta. Namun, masih kukenang cerita kemarin dipulau seberang (pulau Jawa).

Harap ku dalam hati "Kutunggu perjalanan bersamamu lagi, untuk mengukir cerita dan melukis kenangan baru berdua", lagi.

Disisi lain, aku sangat menikmati suasana disini. Angin yang besar, suara para anggota club motor berkumpul dan bernyanyi diiringi gitarnya, se kerumunan kecil pengunjung, dan anak yang sibuk memperhatikan kamera DSLR+ stabilizer yang kubawa.

Kutunggu kapal ini bersandar, agar ku dapat sedikit rekaman video dari atas sini. Dan kudapat pula inspirasi dalam menulis artikel ini.

Kini ku teringat lagi akan dirimu. "Kamu sedang apa ya? " Tanya ku dalam hati lagi. Bahkan timbul pertanyaan G'R "dia nyariin gua ga sih?", hehehe pede banget kan?.

"Coba sih kesini gitu kan. Naik kek, cari kek, ish", mulai ku bergumam dalam hati.
Kapal mulai bergerak melambat, angin pun mengecil hasilnya. Menara Siger semakin terlihat membesar, karena kapal bergerak mendekati.

Hey, kumpulan kapal tersandar mulai terlihat. Ternyata dermaga sudah dekat. Tinggal hitungan menit aku akan mulai mengambil video, dan turun kebawah untuk temui team ku.

•••

(14:04)
Saat ku sedang merekam video, pulau disini kurekam. Tiba-tiba kau datang dan menegurku. Jujur aku kaget, lalu ku hentikan rekamannya dan berbalik untuk berbincang denganmu.

" Disini enak tau, dingin", kataku. Lalu kamu menjawab "iya, mata aku sampe gabisa kebuka nih", jawabmu. Memang sih angin besar banget. Tadi juga aku suruh kamu bersandar dipagar kapal, " Sini senderan, kamu kan suka terbang kebawa angin" Kataku meledek kamu.

Kini kau bertanya, "ngapain lama-lama disini? ". " Mau ngambil video Siger, udah deket", jawabku spontan. Kau hanya sibuk memakan kacang yang kau pegang, gak pake nawarin, makan sendiri.

•••

(14:23)
Kita mencari tempat kita memarkir mobil, kita cari ke dek bawah namun salah. Ku cek satu ruangan namun bukan, ketika ku berbalik kamu sudah hilang.

Aku coba cari keatas, aku menemukan mobil yang kita cari, namun aku terpisah darimu. Aku bingung mencarimu "kamu dimana sih, sok mencar juga sih", ku kesal dalam hati.

Aku pun kembali turun dari mobil untuk mencarimu. Aku berlari menyusuri banyak ruangan, namun tetap tak kutemukan dirimu.

Sekarang aku berlari mengintari parkiran, melewati banyak mobil.
Namun kamu tetap tidak ada.

Khawatir ku muncul lagi, takut sesuatu terjadi padamu. "Semoga aja dia agak pinter, dia nunggu di depan pintu keluar penumpang", dalam hatiku berharap.

Ku masih saja menengok kanan kiri. Mencari namun tak ada, keringat dingin bercucuran, berharap kamu baik-baik saja.

Kecil-kecil ngeselin kamu ini. Eh tunggu dulu. Saat kami keluar dari kapal, dari kejauhan kami melihat kamu berdiri dibawah. Seketika tenang hatiku, aku bisa bersandar santai sekarang.

Kami sengaja melewati kamu berdiri, dan ternyata kau sadar akan mobil ini. Kau masuk kedalam mobil dan duduk disamping kananku.

Sekarang kau duduk santai, mulut dan tanganmu tak berhenti memakan kacang kulit yang dari tadi kau makan.
"Ngeselin sumpah, untung gua sayang", kataku dalam hati.

•••

(15:15)
Kita sudah sampai di kalianda, abis mengantar satu orang tim kita. Tempat duduk menjadi luas, kurang lebih dua jengkal jarak kita kini.

Entah kenapa aku mulai penasaran tentang apa yang kini ada difikiranmu. Aku benar-benar ingin tau, agar ku tahu apakah ini waktu yang tepat untuk kusapa dirimu.

Kau terduduk diam, memandang kearah luar. Terlihat kau melamun, dan membuat ku semakin penasaran akan apa yang ada dalam fikiranmu kini. Kau tersadar lalu meminum air mineral yang kau pegang, lalu kembali diam melanjutkan lamunanmu.

•••

(15:48)
Akhirnya kita sampai di PJR, artinya sudah semakin dekat dengan rumah. Namun kita masih saja saling diam. Masih bertahan dalam keheningan berdua.

Bosan ya tanpa bincang. Hanya aku yang merasa gak betah saling diam, atau mungkin kamu juga merasakan nya.

Setauku kamu adalah orang yang hebat dalam hal tidak perduli, apalagi didukung dengan tiada rasa mu kepadaku lagi. Jadi wajar saja kau mampu tanpa kata denganku.

Sedangkan aku, masih belum terbiasa. Berharap bisa, namun sulit terasa.

•••

(16:15)
Sampailah kita dirumahku, kita mengetuk pintu rumah namun tak ada yang  menyahuti kita.

Tampaknya tak ada orang dirumah.
Hingga dateng adikku. Namun kunci dilempar kedalam katanya. Jadi harus manjat pager deh.

•••

(16:30)
Kini kita berdua berhasil masuk kerumah. Hasil dari manjat pagar, tapi bukan aku yang memanjat, melainkan kamu.

Kau panjat pagar, kau ketuk jendela kamar ibuku, hingga akhirnya di bukakanlah pintu masuk untuk kita.

•••

(16:55)
Aku baru selesai mandi, kini ku membaringkan badan di atas kasur dalam kamarku. Sepintas kulihat kau saat ku lewat tadi, kau sangat fokus dengan handphone mu.

Biar ku tebak, pasti sedang chatingan dengan dia. Aku yakin sekali. "Yasudahlah, fokus aja sama dia. Nanti kalau butuh aku, kesini aja", kataku dalam hati.

Detik berubah menjadi menit, dan menit terus bergerak. Kau tetap fokus disana dengan handphone mu. Padahal harap ku kau kemari, dan beristirahat disampingku.

Mungkin akan ada pelukan kecil, atau juga ciuman sayang dariku. Namun kini hanya bayangmu yang mendapatkannya. Karena dirimu mungkin tak butuh itu.

Aku sayang sendiri, cinta juga sendiri. Kau tak perduli, walau kumenanti. Terlihat ku yang berharap, kau tidak lagi. Terlihat aku yang cemburu, kau tidak perduli.

Kemungkinan besar hasilnya adalah perpisahan. Karena keadaan dan niat ku tuk tidak bertahan. Namun masih ada kemungkinan kecil untuk bahagia berdua, tetapi semua tergantung dari sikapmu selanjutnya.

Jujur aku masih menunggu perubahanmu. Bukan berharap, hanya menunggu. Sakit jika harus terus berharap, namun yang diharap tak juga didapat.

Kerasnya hatiku mengusir mu pergi dalam harapan. Tetapi tetap saja tak bisa berdusta bahwa cinta masih ada. Semoga segera terhapus agar sakit tak datang, dan harapan selalu pupus.

•••

(17:06)
Baru saja aku kedepan untuk mendekatimu. Ku melirik ke handphone mu, sedang buka whatsapp namun tak tahu chat dengan siapa. Aku mengambil chiki yang ada disebelahmu lalu berkata, " Kalau mau tiduran kekamar ya".

Tak tahu perduli atau tidak dirimu, aku hanya menawarkan saja, barangkali kamu lelah dan ingin rebahan. Percayalah, disini aku menunggumu.

•••

(17:11)
Terdengar kau mengangkat telepon, tak tahu dari siapa. Ku keluar kamar dan ternyata kau sudah berjalan kedepan. Entah siapa yang ku hubungi, yang jelas aku yakin kau minta diantarkan untuk pulang.

Jujur saja, aku merasa tidak dihargai.
Aku yang jemput kamu dirumah, harusnya aku juga yang anter kamu pulang.

Saat kau sampai ternyata yang jemput adalah temanmu dirumah. Yasudahlah, setidaknya tidak terlalu sakit. Namun tetap saja aku tidak dihargai kini.

•••

(17:16)
Kau berpamitan dengan ibuku, lalu bergegas pergi tinggalkan rumahku.
Kini aku terduduk sendiri dalam gelap ditempat persis kau duduk tadi.

Saat ku lirik ke kanan, aku terdiam. Aku terdiam melihat boneka babi pink yang tertinggal. Entah tertinggal, atau sengaja ditinggal.  Sudahlah, semakin sakit rasanya. Kini babi pink kembali kedalam lemari tempat semula kusimpan.


Jakarta - Bandar Lampung.

Tidak ada komentar: